Saturday, June 9, 2007

 

Tips Menjadi Orang Sukses dan Kaya

Bagaimana membalik perusahaan yang hampir bangkrut menjadi profit dalam waktu singkat? Inilah resep Robby Djohan.

Sudah lama saya membaca buku The Art of Turn Around, buku biografi Robby Djohan yang bercerita bagaimana pengalaman dia memperbaiki kinerja Garuda dan menyelesaikan mega merger empat bank menjadi Bank Mandiri. Beruntung SBM ITB (School of Business and Management Institut Teknologi Bandung) mengundang beliau untuk memberikan kuliah umum leadership hari Sabtu 23 Desember 2006. Tentu saja saya bersegera untuk datang mendengar langsung kiat-kiat beliau.

Banyak yang disampaikan tentang kepemimpinan dalam kuliah 1 jam dilanjutkan tanya jawab 1 jam. Saya ingin kutipkan bagian yang menarik yaitu resep 5 target dalam membuat perubahan. Kata Robby Djohan, masalah utama kepemimpinan itu adalah kepercayaan (trust) dari bawahan. Kemudian dia bercerita pengalamannya dalam meraih kepercayaan dari bawahan. Waktu itu, tahun 1998, Robby Djohan diminta untuk menangani Garuda yang sedang mengalami kesulitan finansial. Robby yang berlatar belakang bankir (pernah di Citibank 11 tahun, dan membangun Bank Niaga dari awal hingga 18 tahun) tentu saja disangsikan banyak pihak dari dalam kalangan Garuda. Bagaimana dia mendapatkan kepercayaan dengan cepat? Belajar tentang struktur pesawat? Belajar menerbangkan pesawat? Tentu tidak. Kata dia, leadership is about managing people, not structure. Jadi kuncinya ada pada menggerakkan manusia. Jadi bagaimana caranya?

“Cukup 5 hal saja,” kata Robby Djohan. Cukup lima target saja, tidak usah banyak-banyak, asal dikerjakan 100% maka akan memberikan hasil luar biasa. Robby menganalisa lima masalah utama Garuda. Dia simpulkan lima masalah itu adalah :

  1. Garuda tidak punya image. kenapa? Karena selama ini penerbangannya sering terlambat. Ketepatan waktu penerbangan (on time performance/OTP) Garuda hanya sekitar 80-an persen, sementara rata-rata industrinya di atas 90%. Maka Robby membuat target mencapai OTP di atas 90% dan berhasil. OTP Garuda bisa mencapai 94%, di atas rata-rata industri penerbangan.
  2. Hutang Garuda mencapai 158 juta dolar. Target Robby adalah cukup ‘break even’ dalam waktu singkat. Maka dia menutup rute-rute ke Eropa yang terus merugi. “Bukankah itu penting buat image?” kata sebagian pihak. Jawab Robby, image itu untuk orang kaya. Orang miskin kok jaga image. Dengan penutupan rute-rute ‘elite’ tersebut, kebocoran dana bisa dikurangi.
  3. Banyak pesawat yang tidak terbang (grounded). Sekitar 48-49% pesawat tidak terbang karena rusak. Tidak ada dana untuk perawatan. Maka Robby melakukan lobi ke Swiss Tehnik untuk bantuan perawatan pesawat. Swiss tehnik waktu itu adalah yang terbaik dalam perawatan pesawat. “But I don’t have money!” kata Robby. Maka ditawarkan agar pihak Swiss memastikan semua pesawat bisa terbang, dan dari keuntungan Garuda mereka dipastikan menjadi pihak pertama yang dibayar. Waktu itu profit margin Garuda masih cukup besar karena harga minyak masih cukup rendah. Pihak Swiss setuju. Enam bulan kemudian semua pesawat sudah bisa terbang.
  4. Karyawan Garuda sudah pesimis perusahaannya bisa bangkit. Yang dilakukan Robby adalah mengganti top manajemen dengan tenaga yang lebih muda. Jelas ini langkah tidak populer. Tapi kata Robby, cara menyuntikkan paradigma baru adalah dengan memasukkan generasi baru. Generasi yang lebih muda ini bukannya lebih jagoan dibandingkan yang lama, tapi lebih ‘highly motivated’. Meminta generasi tua untuk bermotivasi tinggi merupakan hal yang sulit, berbeda dengan generasi muda.
  5. ” … lupa!” (kata Robby di seminar). Kalau tidak salah adalah mencetak leader baru, dengan cara memberikan respect, rasa hormat kepada generasi yang baru itu untuk bertindak dengan cara mereka, demikian kata Robby. Tugas pemimpin yang betul adalah menyiapkan generasi berikutnya untuk menjadi pemimpin, dengan cara memberikan kebebasan untuk melakukan apa yang mereka ingin lakukan.

Hasilnya? Dalam era singkat kepemimpinan Robby Djohan (8 bulan), Garuda meningkat image nya menjadi penerbangan tepat waktu, menjadi break even bahkan meraih laba 60-an juta dolar di tahun berikutnya, dan karyawannya lebih bersemangat. Sayangnya Robby keburu dipindah untuk menangani Bank Mandiri yang baru dibentuk.

Itu 5 cara yang dilakukan oleh Robby Djohan dalam menangani Garuda. Lalu apa poin penting yang dia sampaikan? “Tidak perlu 200 hal, cukup tangani 5 hal, kerjakan 100%,” demikian kira-kira kiat Robby Djohan.

Mungkin kita saat ini bukan CEO yang berkewajiban memikirkan perubahan besar di perusahaan. Namun saya kira resep ini bisa diterapkan untuk diri kita sendiri. Anggap saja diri kita ini ’sebuah perusahaan yang kurang sukses dan tidak juga mengalami kemajuan’. Apa 5 target utama dalam 3 bulan mendatang yang kalau kita jalankan sungguh-sungguh akan membuat perbedaan besar dalam hidup kita? Mari kita pikirkan sejenak, apakah 5 target (menyangkut kehidupan spiritual kita, keluarga kita, karir kita, kesehatan kita, dll) yang penting segera kita kerjakan agar hidup kita berubah menjadi lebih sukses?

Kalau sampai saat ini prestasi kita masih biasa-biasa saja, kehidupan yang kita jalani belum cukup memuaskan, masih banyak mimpi yang belum terwujud, juga masih banyak kewajiban yang terbengkalai, maka kini saatnya kita coba membuat 5 target untuk kita kejar sungguh-sungguh dalam 3 bulan. Kalau Robby Djohan melakukan 5 hal tersebut untuk meraih kepercayaan (trust) dari para karyawan Garuda yang menolak pimpinan dari luar, maka kita melakukan 5 hal itu untuk meraih kepercayaan dari… diri kita sendiri! Selama ini mungkin kita sudah gamang dan tidak yakin, apakah memang kita itu mampu, apakah kita layak meraih penghidupan yang lebih baik, apakah kita ini memang bisa menjadi khusyu beribadah, apakah kita ini bisa menciptakan keluarga yang harmonis, dll? Seringkali kita sendiri kehilangan rasa percaya diri, dan itu dapat diraih dengan bukti prestasi pada 5 hal setiap 3 bulan.

Belum kebayang? Sama. Saya juga sedang mikir-mikir tentang hal itu. Apa ya 5 target yang bisa memberikan perubahan besar bagi diri saya? Membuat e-book blog SEPIA ini mungkin? Mengurus kenaikan pangkat yang seharusnya sudah beberapa tahun lalu diajukan? Bagaimana kalau berkenalan dengan orang baru di bidang yang baru agar bisa membuka peluang baru? Bagaimana pula dengan bangun 30 menit sebelum shubuh agar masih sempat mencicip nikmat tahajud (walau cuma kontingen kelas teri)? Atau mungkin juga lebih serius mengurus karies gigi kiri atas yang sudah lama saya abaikan? Hmm… banyak juga pilihannya. Bagaimana dengan Anda? Apa 5 target dalam 3 bulan ke depan?

PS : saya sudah buka lagi buku The Art of Turn Around, Robby Djohan. Kisah tentang Garuda diceritakan lebih lengkap, dan sejujurnya lebih rumit dan sulit dari yang disampaikan di seminar. Beberapa detilnya sedikit berbeda. Yang menarik dari apa yang disampaikan Pak Robby di seminar adalah : resep berfokus pada 5 hal!


This page is powered by Blogger. Isn't yours?

Subscribe to Comments [Atom]